“Wah, teman saya tidak shalat. Dia ateis, “kata kolega saya, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri Islam di Jakarta. “Mengapa dia sampai ateis?” tanya saya. “Karena belajar filsafat,”jawabnya.
Bagi saya, obrolan ringan tersebut menorehkan kegelisahan pada benak pikir yang memunculkan pertanyaan: Kenapa filsafat dijadikan “kambing hitam”? Sudah jadi rahasia umum bahwa ada segelintir mahasiswa memeluk “agama” ateisme. di beberapa perguruan tinggi Islam.
Akar Masalah
Ada dua hal yang dapat dilakukan dalam mensikapi fenomena ateisme tersebut? Pertama, menghargai siapapun yang berusaha mencari kebenaran. Artinya, “sesesat” apapun mahasiswa itu, tidak layak dihakimi tanpa memberi kesempatan berargumentasi. Oleh karena itu, dialog-rasional lebih elegan untuk dilakukan. Kedua, mencari akar-akar ateisme mahasiswa itu.
Minimal, ada tiga akar utama ateisme mahasiswa, yakni: Pertama, pengajaran agama yang anti-rasionalitas. Bila dicermati, proses pengajaran agama Islam di Indonesia, cenderung menekankan “keyakinan” daripada “penjelasan rasional.” Maksudnya, penuntut ilmu-ilmu agama telah dipagari jeruji-jeruji teoritis untuk tidak mempersoalkan masalah ketuhanan (teologis). Padahal, evolusi kesadaran manusia memuncak pada tuntutan agar ada pertanggungjawaban rasional dari apa yang diyakininya. Oleh sebab itu, perlu segera dirancang kurikulum pengajaran agama yang membuka “kran” rasionalitas dogma-dogma agama. Sehingga pertanyaan-pertanyaan kritis rasional tidak menjelma menjadi ancaman bagi keimanan.
kedua, masalah psikologis. Mahasiswa yang “ateisme” itu lebih banyak dilahirkan dari rahim problem psikologis, daripada filosofis, yakni: Pertama, proses pencarian identitas diri. Identitas diri itu digapai dengan “tampil beda,” melawan arus utama (mainstream) keberagamaan. Memang, sarana untuk itu tersaji dalam filsafat. Kedua, komitmen yang longgar terhadap ajaran agama yang disebabkan kemalasan melakukan ritual keagamaan, seperti shalat ataupun puasa. Lalu, mereka mencari justifikasi dalam filsafat. Jadi, filsafat dijadikan topeng kemalasan mereka.
Ketiga, metode pengajaran filsafat. Bagi mahasiswa semester awal, filsafat adalah mata kuliah “asing” sebab mereka belum pernah belajar filsafat saat sekolah menengah (SMU). Mereka belum memiliki perangkat logika yang memadai untuk melakukan eksplorasi intelektual secara radikal. Fakta ini diperparah oleh “para dosen” yang mengajarkan filsafat sebagai sebuah “ajaran”. Padahal, filsafat adalah hasil olah-pikir manusia yang punya kelemahan serta keterbatasan.. Lantas, para dosen itu pun tak memberikan instrumen kritis untuk mengkritik suatu bangunan filsafat, terutama filsafat ateistik. Hal ini disebabkan karena tak semua pengajar filsafat memiliki basis akademik filsafat. Kondisi ini berakar pada tidak proporsionalnya penempatan pengajar filasafat. Selama ini, filsafat dijadikan mata kuliah “sampingan” serta ada anggapan bahwa siapapun pun boleh dan berkompeten mengajar filsafat. Padahal, untuk mengajarkan mata kuliah ekonomi, misalnya, seseorang harus punya basis akademik ilmu ekonomi.
Butir-Butir Solusi
Selanjutnya, apakah yang mesti dilakukan? Pertama, pengajaran filsafat di tingkat SMU. Murid-murid SMU diperkenalkan dengan filsafat, terutama logika dan sejarah filsafat, sejak dini, minimal pada kelas III SMU. Sehingga, ketika mereka mengecap bangku perkuliahan, mereka sudah trampil dan siap secara intelektual memasuki arus wacana filsafat dan tidak terombang-ambing oleh pemikiran filsafat.
Kedua, kurikulum dan manajemen pengajaran filsafat. Perguruan tinggi Islam segera membenahi kurikulum pengajaran filsafat dengan menekankan pada: Pertama, filsafat diperlakukan sebagai instrumen, bukan ajaran. Kedua, tiap filsafat, baik barat timur maupun Islam, memiliki “kepentingan”, seperti halnya ilmu-ilmu yang lain. Pengajaran filsafat berkepentingan untuk memberikan perangkat kritis supaya mahasiswa memiliki kerangka berfikir rasional, sistematis, dan logis. Ketiga, filsafat, memang mengagungkan kebebasan. Sebetulnya, kebebasan dapat dibagi menjadi dua: bebas-dari dan bebas-untuk. Bebas-dari adalah kebebasan negatif dimana seseorang mencoba bebas dari segala bentuk determinasi. Bebas dalam arti ini adalah mustahil karena manusia memiliki jaring-jaring kehidupan, baik kehidupan sebagai bagian dari masyarakat, keluarga dan seterusnya, yang butuh hukum dan aturan yang mengikat. Oleh karena itu, hanya bebas-untuk saja yang mungkin. Bebas-untuk berarti kebebasan yang diabdikan untuk suatu nilai yang lebih tinggi, seperti nilai ketuhanan adan kemanusiaan. Akhirnya, diharapkan filsafat tidak menjadi mimpi buruk bagi umat beragama.
SUMBER: “Ateisme dan Pengajaran Filsafat,”ta’dib, Edisi:17/Th.IV/Juni 2006





Bagaimana caranya tidak terombang-ambing pemikiran filsafat.
Oleh: gentole on Agustus 20, 2008
at 12:17 pm
Wah, trimakasih sudah berkunjung yach…sebelum saya mengomentasi pertanyaan mas/mbak, maaf perlu saya bertanya terlebih dahulu : apakah maksud “terombang-ambing pemikiran filsafat” itu? Pertanyaan ini muncul karena saya melihat bahwa filsafat (memang) menawarkan ketidakpastian dan ketidaktahuan itu. Meskipun demikian, filsafat berbeda dengan “relativisme a la kaum sofis”.
Salam,
M. Subhi-Ibrahim
Oleh: ruhullah on Agustus 21, 2008
at 6:02 am
mas/bapak.. saya skr mau nyusun karya tulis
karya tulis itu kebetulan sebagai salah satu persyaratan lulus pesantren..
sebetulnya tema nya bebas, tapi saya benar2 tertarik masalah filsafat dan teologi, tapi saya belum tau jauh tentang kedua hal tsb (br tau dikit2)
saya pgn saran sebaiknya klo mw mulai mempelajari filsafat dari mana dulu?
di sekolah sy cm belajar ilmu manthiq
lalu pembahasan yang pas buat karya tulis sy apa y?
soalnya kt teman2 klo karya tulis utk tingkat MA bahas filsafat terlalu tinggi, sy jg jadi ragu soalnya takut susah pas sidangnya..
gmn y saran mas/bapak sendiri?
makasih sblumnya
Oleh: Diela on Agustus 26, 2008
at 7:36 am
Anak SMU diajari Filsafat? Setuju.
Oleh: ading on Oktober 7, 2009
at 7:41 am