JALAN CAHAYA

Juni 16, 2008

Puisi-Puisi Imam Khomeini

Filed under: SPIRITUALITAS — ruhullah @ 6:38 am

Kerumunan Pemabuk

Di sekitar sufi tak kutemukan
Kelezatan yang kudamba
Di biara tak terdengar
Musik yang cinta mencipta

Di madrasah tak bisa kubaca
Buku apa saja dari si sobat
Di menara susah sungguh ditemukan
Suara darinya untuk disimak

Dalam cinta-buku tak kulihat
Wajah cantik bertutup cadar
Dalam susastra-suci tak kudapat
Jejak-jejak sang nasib

Di rumah berhala sepanjang usia hamba
Dalam kecongkakan terhabiskan saja
Dalam perkumpulan sesama kulihat
Tak penawar tak juga lara

Lingkar pencinta kujelang musti
Pelipur lara mungkin di sana
Dari kebun mawar sang kekasih
Sepoi angin atau sebentuk jejak

“Aku”dan ” Kita,” dari akal keduanya
Dialah tali tuk memintalnya
Dalam kerumunan para pemabuk
Tak ada “Aku” tak pula “Kita”

Gairah Pencinta

Wahai, hati itu bukan hati
Yang pada rupawanmu tak cinta
Wahai, sang bijak tak bestari
Yang pada tampanmu tak mendamba

Wahai, pencinta, hatinya gairah menyala
Gairahlah semua dalam anggurmu
Biarkan bagiku gairah ini sendiri
Apa lagi yang hidup ini kandungi

Siapa campakkan daku di gurun
Cinta ‘lah padamu O, sahabatku
Tindak ‘pa lagi dapat selamatkanku
Tak kunjung tampak tepian gurun

Jika pencinta bergairah menyala
Sisikan ayo dirimu segera
Antaramu dan dia apa pun tiada
Hanya dinding diri-jumawa

Jika kau pelancong jalan-pencinta
Campakkan sajadah campakkan jubah
Tiada pembimbing, hanya cinta
Dalam cinta kuyuplah andika

Jika memang pencinta-benar
Jangan jadi sufi saleh segala
Kar’na tak masuk lingkar-pencinta
Selain kumpulan pencinta saja.

Dambaku main rambut-pilinnya
Apa yang buruk padanya apa yang hina
Satu sentuhan gila satu elusan liar
‘Pa lagi bisa beri cinta, hai pandir

Raih tanganku, dan lepaskan
jiwaku dari kemunafikanjubah ini.
Karna jubah ini bukan apa
Selain pelindung si jahil

Ilmu dan irfan sisihkan saja
Ke rumah anggur mereka tak bawa
Tapi di tempat istirah pencinta
Kepalsuan, pasangannya tiada

Kilas-Pandang Kekasih

Kasihku, hidupku bermula
Dan berakhir di pintumu
Coba saja kuhabiskan di sana
Tak lagi kubutuh sesuatu apa

Di kedai, masjid, dan biara
Dan lantai kuil-berhala
Aku merunduk dalam asa
‘Kan kau berkahiku dan memuja

Tak ‘kan madrasah temukan penawar
‘Tuk susahku, tak pula sang wali
Wahai, keluarkanku dari galau ini
Oleh kilasmu sebelum pingsanku

Wahai, penuh cinta-diri sang sufi itu
Itulah sejauh yang kutahu
Wahai, beri aku penglihatanmu
Biar bening hatiku s’lalu

T’lah kucampakkan cinta-diriku
Kar’nanya saja kini kuada
Wahai, arahkan pandang-agungmu
padaku sari-pati yang hina

Hidup bak biksu t’lah kupilih
Demi kekasih di balik cadar
Biar oleh pandang-cintanya
Jadi gelegak-samudra tetes ini

Lunglai Pemabuk

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kujadi debu di jalannya
Saat kutinggalkan hidup deminya
Saat jadi pencinta-sejatinya kuhanya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat segelas ramuan jiwa
Kut’rima dari tangan-lembutnya
Dan, dalam lupa dua dunia
Terantai di untaian rambutnya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kepalaku di telapaknya
Ciuminya hingga hidup usai saja
Dan jadilah aku, hingga kiamat tiba
Mabuk dari gelasnya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kuterbakar bagai pencinta
Selalu saja deminya, dan nanar
oleh wajah-manisnya
dalam bengongnya si pemabuk

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kumabuk kepayang
Dalam lunglai si pemabuk
Dan jadilah kutahu semua
Rahasia-rahasia- tersembunyinya

Wahai, (kudamba) hari itu
Saat kudapati di ujung-ranjangku
Yusuf penyejuk-mataku
Dan jika tidak, seperti Ya’kub
Dibuai bau-harumnya

dikutip dari:

http://abatasya.net/wasiat-sufi-imam-khomeini-kepada-putranya/puisi-puisi-imam-khomeini-catatan-penyun.html

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: